Harapan Nahdliyin Kepada Kyai Desa
(NU; Syahwat Politik dan Umat)
Oleh: Apendi *)
Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 32 di Asrama Haji Sudiang , Makassar, Sulawesi Selatan telah usai. Saat yang mendebarkan dalam forum tertinggi bagi warga nahdliyin itu adalah pemilihan rois am dan ketua umum PBNU periode 2010-2015. Pasalnya, posisi pucuk pimpinan itu sangat strategis dalam membawa organisasi kemasyarakatan terbesar itu selama lima tahun mendatang. Praktis, tarik menarik kepentingan pun mewarnai; baik kepentingan pemerintah maupun parpol. Maklum, NU memiliki basis massa yang besar. Sampai-sampai Presiden SBY dalam sambutan di Muktamar mengingatkan agar NU kembali khittah-nya.
Setelah melalui pertarungan yang cukup sengit, akhirnya KH Sahal Mahfudz terpilih sebagai Rois Am dan KH Said Aqil Siradj (Kang Said) menjadi Ketua Umum PBNU.
Pertanyaannya, akan ke manakah arah NU lima tahun ke depan di bawah duet KH Sahal Mahfudz-KH Said Aqil Siradj. Pertanyaan ini menurut saya sangat penting. Karena ketika NU di bawah komando KH Hasyim Muzadi gesekan politik praktis sangat kentara.
Praktis, NU pun terseret ke wilayah politik. Setidaknya ini bisa dibaca dari majunya KH Hasyim Muzadi sebagai wakil presiden mendampingi Megawati Soekarno Putri dalam pemilihan presiden 2004 lalu.
Saat pemilihan presiden 2009, KH Hasyim Muzadi pun menjadi tokoh iklan untuk kampanye JK-WIN. Orientasi politik yang dilakukan elit NU dianggap melanggar khittah (NU online). Kondisi ini bertolak belakang ketika alm KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memimpin NU.
Saat kepemimpin Gus Dur, NU sangat menjaga jarak dengan kekuasaan (politik). Di era Gus Dur juga, NU menjadi organisasi yang diperhitungkan baik dalam konteks nasional maupun internasional. Sikap kritis Gus Dur serta gagasan-gagasannya yang brilian dan terkadang nyleneh dalam hal keagamaan dan kebangsaan menjadi nilai jual NU.
Kembali ke pertanyaan di atas. KH Sahal Mahfudz dan KH Said Agil Siradj duet kepemimpinan yang ideal. KH Sahal oleh warga NU dianggap sebagai kyai sepuh kharismatik. Sedangkan Kang Said memiliki keilimuan yang tinggi. Jika melihat latar belakang pendidikannya, Kang Said termasuk tokoh moderat yang tidak alergi dengan pemikiran liberal.
Menurutnya, kalau mempersoalkan liberalisme pemikiran keagamaan Islam berarti merupakan bukti bahwa tidak mengetahui/memahami sejarah pemikiran Islam. Liberalisme itu sudah terjadi sejak zaman khulafaurrasyidin; Abu Bakar, Umar, Utsaman, Ali dan para ulama tabiin. (hidayatullah.com). Pemikiran yang moderat dan inklusif itu tidak lepas dari pendidikan yang diraihnya. Kang Said menematkan S1 di Universitas King Abdul Aziz, Jurusan Ushuluddin dan Dakwah. S2 di Universitas Ummu al-Qura, jurusan Perbandingan Agama dan S3 Universitas Ummu al-Qura, jurusan Aqidah/Filsafat Islam. Kemudian, pendidikan pesantren membuatnya lebih terbuka (inklusif) kepada semua kalangan.
Soal NU, dalam setiap kesempatan Kang Said selalu mengatakan ketua umum PBNU harus bersih dari politik, agar NU secara institusi tidak terseret-seret ke dalam politik praktis dan pragmatisme. NU harus bisa menjadi harapan dan pencerahan bagi umat dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.
Soal PKB, Kang Said pun cukup tegas. Dalam pandangannya, tidak pernah PBNU secara resmi membidani kelahiran PKB. PBNU hanya menunjuk lima anggotanya, yang disebut tim lima, untuk mempersiapkan kelahiran PKB. Jadi, tidak dapat dikatakan PKB sebagai partainya PBNU. Kang Said juga sependapat jika pengurus PBNU yang akan menjadi calon presiden, wakil presiden atau gubernur harus mundur dari jabatan di PBNU sehingga umat tidak terpecah-pecah. (inilah.com)
NU dikenal sebagai organisasi keagamaan dan sosial-masyarakat yang mempunyai visi kebangsaan serta toleransi yang relatif konsisten. Jika ada kelompok-kelompok yang mencoba mengganggu harmoni bangsa ini dan ditengarai bisa meretakkan perahu kebhinekaan, NU akan berada di garda terdepan untuk membela bangsa ini dari ancaman untuk keutuhan dan kedaulatan bangsa ini. KH Ahmad Shidiq merumuskan visi tersebut dalam tiga lingkaran toleransi. Yakni, toleransi intra-agama (al-ukhuwwah al-islamiyyah), toleransi kebangsaan (al-ukhuwwah al-wathaniyyah), dan toleransi kemanusiaan (al-ukhuwwah al-basyariyyah). Persoalan agar NU kembali khittah 1926 kuncinya ada pada elit NU termasuk ketua umum PBNU. Harapan baru itu kini ada di pundak Kang Said, Kyai asal Desa Kempek, Kab Cirebon. Semoga. (*)
*) Warga NU Kultural tinggal di Desa Lungbenda, Kec Palimanan, Kab Cirebon
About us is Under Construction
semoga saja dengan kepengurusan NU yang baru ini bisa membawa NU semakain maju dan lebih baik.
nah ngene… wartawane nulis…